Renungan Di Hari Pertama
|
Wednesday, 02 January 2008 04:56 |
|
Hari ini tepat hari pertama di tahun yang baru. 2008. Entah apa kata orang tentang tahun ini. Apakah tahun macan, singa atau kucing sekalipun, gwa gak peduli. Yang jelas di tahun ini harus ada yang lebih berbeda. Tak banyak memang yang harus diubah. Tapi tak ada salahnya untuk dicoba. Tapi sedikit saja yang jadi pertanyaan gwa. Mengapa perubahan itu harus dilakukan di tahun yang baru? Sebenarnya kan ada banyak waktu untuk melakukan hal itu. Sebenarnya perubahan ke arah yang lebih baik bisa kita terapkan sewaktu-waktu. Kapan saja. Oke-lah, bukannya menyalahkan akan hal itu, tapi emang minimal ada hal yang bisa kita banggakan di tahun yang baru. Semangat. Di tahun ini, apa aja yang harus kita benahi? apa yang harus kita buang? dan apa pula yang patut untuk kita pertahankan? Semuanya hanya diri kita yang menjawabnya. Takut untuk berubah? takut untuk melakukan perubahan? itu adalah ego yang harus kita buang jauh2. memang sich perubahan tak akan selalu berbuah manis. Semua tak selalu berakhir seperti yang kita harapkan. Tapi, orang yang mau maju, adalah orang yang mau melakukan itu ! Dan semua selalu ada rasa. Pahit dan manis. Jika terlalu takut akan rasa pahit, tentu akan sulit untuk merasakan yang manis. Yang jelas, saatnya untuk merenung. Bukan merenungi kesalahan2 kita di tahun yang lalu, tapi merenungi apa saja yang musti kita "benahi". Semoga di tahun ini kita bisa lebih baik lagi. Kalau nggak sekarang, KapanLagi ??? |
Kalau Bosan. Enaknya Ngapain???
|
Thursday, 02 August 2007 05:34 |
|
Pernahkah dalam hidup anda merasakan bosan yang amat sangat. Sehingga hari ini seperti tiada lagi daya untuk melakukan suatu rutinitas yang menjadi kegiatan kita sehari-hari.
Sudah pasti setiap pekerja pernah merasakan BOSAN ketika sedang melakukan pekerjaannya. Entah karena jenuh sudah melakukan rutinitas yang sama bertahun-tahun, entah karena suasana kantor yang memang tidak ‘hidup’ dan membosankan, atau karena waktu kerja anda tidak seimbang dengan apa yang anda kerjakan. Akibatnya, beberapa jam kerja diisi dengan ‘tidak tahu harus ngapain’. Benar-benar bosan! Apa jalan keluarnya kalau sudah begini?
1. Tahukah anda bahwa angka pengangguran di Indonesia makin meningkat saja?. Karena itu, rasanya tidak pantas untuk mempertahankan rasa bosan tersebut sementara anda musti bersyukur sudah memiliki pekerjaan. Bersyukur memang salah satu cara ampuh untuk mengusir kejenuhan. Kesadaran ini juga bisa membuat anda bekerja dengan lebih antusias dan lebih baik dari sebelumnya.
2. Mungkin anda bosan karena melakukan segala sesuatu dengan saklek. Bagaimana jika anda mulai menciptakan ‘ritual’ ala anda sendiri, yang paling enak dan menyenangkan sesuai mood anda, dengan syarat pekerjaan tetap harus selesai, bahkan melebihi target. Misalnya membawa musik kesukaan kekantor dan mendengarkannya selama anda bekerja atau menghabiskan waktu setengah jam menghirup udara pagi di luar ruangan sebelum mulai kerja.
3. Secara psikologis, otak manusia akan terus‘haus’ dalam mencari info baru. Karena itu jika anda mulai merasa bosan, isi waktu anda dengan belajar. Menambah skill yang berhubungan dengan pekerjaan atau skill lainnya untuk menambah pengetahuan, bisa anda lakukan lewat membaca buku, surfing internet, atau obrolan dengan rekan senior.
|
Atasi Kejenuhan dari Rutinitas
|
Friday, 19 January 2007 04:53 |
|
 Holiday Rutinitas dan pekerjaan yang monoton
seringkali menimbulkan kejenuhan. Dan, itu merupakan hal yang
manusiawi, namun meski demikian, kita tak boleh membiarkan keadaan
tersebut berlarur-larut. Kejenuhan yang dibiarkan mengendap dapat
merusak kualitas kerja serta mengganggu secara psikologis. Berikut kami
sampaikan beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi kejenuhan.
Perluas Cakrawala
Perkembangan manusia berlangsung secara terus-menerus, tak peduli
berapapun usianya. Otak kita dirancang untuk terus berkembang, sehingga
butuh terus ditambahi dengan hal-hal baru. Untuk itu sebagai sebuah
pemenuhan kebutuhan, perluaslah pengetahuan. Belajarlah hal-hal baru
tanpa henti. Menimba ilmu tidak harus melalui sebuah instansi, Anda
dapat belajar hal-hal baru dari lingkungan sekitar. Bisa berupa
ketrampilan baru, membaca koran atau buku-buku, atau hal-hal lainnya.
Buat Tantangan Baru
Seperti saat kita masih anak-anak, setiap kali mendapat mainan baru,
hari-hari akan dilewati bergelut dengan barang baru tersebut. Tapi
begitu seminggu berlalu, akan mulai tumbuh kebosanan. Tak jauh beda
dengan kita orang dewasa dan pekerjaan yang kita geluti. Bedanya dengan
anak-anak, sebagai orang dewasa kita dituntut untuk bertahan dan
menyesuaikan diri dengan kebosanan itu. Untuk mengatasi hal ini, Anda
bisa mencari tantangan baru di luar pekerjaan rutin. Luangkan waktu
luar pekerjaan untuk melakukan hal-hal baru guna menstimulasi minat
Anda, seperti misalnya ikut Yoga atau hal-hal lain yang belum Anda
kuasai.
Membuat Perubahan
Bertemu, melihat dan melakukan hal-hal yang sama dari hari ke hari
pastinya membuat kita sangat bosan. Untuk menepis keobasanan tersebut,
Anda bisa melakukan perubahan-perubahan pada hal-hal kecil yang Anda
jumpai setiap hari. Seperti misalnya, letak meja di kantor, atau
mungkin wallpaper di komputer yang Anda gunakan setiap hari, dandanan
rambut, atau bahkan rute Anda menuju tempat kerja.
Ubah Bahasa Tubuh
Mungkin bahasa tubuh merupakan hal paling sederhana yang jarang kita
perhatikan. Namun, sikap tubuh memiliki efek nyata terhadap suasana
hati seseorang. Orang yang merasa bosan biasanya mulai duduk merosot,
menekuk wajah dan terlihat muram. Ketika kebosanan mulai menyergap,
cobalah untuk duduk tegak dan tebarkan senyum, lalu lihat efeknya pada
diri Anda.
Ciptakan Kenyamanan
Setiap orang, secara alamiah menyukai keadaan yang membuatnya
nyaman. Suasana yang nyaman mendorong kita untuk selalu senang. Jika
Anda penggemar musik, Anda dapat mendengarkan musik kesayangan sembari
bekerja. Atau mungkin Anda bisa mengubah ruang kerja sebagai tempat
yang nyaman. Bisa juga mencipatkan suasana yang ramah dan penuh canda
tawa bersama rekan kerja.
Ambil Libur
Minggu demi minggu berlalu, dan setiap hari kita berkutat dengan
rutinitas yang itu-itu saja. Untuk meredakan rasa jenuh, manfaatkan
setiap hari Sabtu-Minggu untuk benar-benar menikmati liburan. Tak perlu
pergi ke tempat pariwisata, Anda bisa juga berlibur dan bersantai
bersama keluarga di rumah. Banyak hal-hal yang dapat kita lakukan untuk
membuat rileks, seperti misalnya nonton film atau mungkin sekedar
jalan-jalan ke mall bersama keluarga. (erl)
Source: KapanLagi.com
|
Beberapa Penyakit Wanita
|
Tuesday, 09 January 2007 18:13 |
|
Berdasarkan sebuah survey, beberapa penyakit yang sering dan biasanya dialami oleh wanita. 1. Nangisitis Akibat
terlalu sensitif. Gejalanya bibir cemberut, mata kedip-kedip. Efek
sampingnya mata bengkak, saputangan basah, hidung meler, bawaannya
ngurung diri atau terkena penyakit Curhatitis A. 2. Curhatitis Bawaannya
pengen nyerocos, Efek samping rahasia orang bisa bocor, terkena
Nangisuitis, Penyakit ini bisa diarahkan positif jika ia bercuhatitisnya ke orang yang tepat, apalagi sama Tuhan. 3. Shooping Syndrome Gejalanya
pengen jalan mulu, mata melotot. Efek sampingnya lidah ngiler, mulut
nganga, dompet jadi tipis. Jika sudah masuk stadium (parah banget)
dompet cowoknya ikut tipis. Coba minum hematcold. 4. Cerewetisme Lebih
parah dari Curhatitis B, tidak mengandung titik koma. Efek samping
muncrat, telinga tetangga budek, dada cowoknya bisa jadi lebih halus
karena sering mengelus . 5. Lamanian Dandanitositis Pengennya
diem depan cermin. Tangan kiri gatel-gatel pengen pegang sisir, tangan
kanan kram-kram pengen teplok-teplok pipi pake bedak. Efek samping :
menor, telat, cowoknya berkarat, gak kebagian makanan. Minum segera
Sari Bawak (Bagi Waktu) dan Taperi (tambah percaya diri). Buat cowok minum Toleransikipil 230 sendok sehari sesudah dan sebelum mandi. 6. Cemburunitis Gejala muka lonjong, tangan mengepal, alis menukik. Coba cegah dengan obat sirup prasangka baik tiga sendok sehari, Pil pengertian dan tablet selidiki dahulu. 7. Ngambekilitis Gejala hampir sama dengan Cemburunitis. Minumlah Sabaron !
Source: http://www.e-samarinda.com/forum/
|
Kedudukan Niat dalam Beramal
|
Monday, 08 January 2007 18:39 |
|
Niat merupakan barometer untuk meluruskan amal perbuatan. Apabila niat baik, maka amalan menjadi baik. Sebaliknya, bila niat rusak, amalan juga akan rusak.
Hal ini sesuai dengan hadits Rasululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam: “Dari Amiril Mukminin Abu Hafs Umar ibn Khottob Radhiyallohu‘anhu bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Rasululloh Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Sesungguhnya segala amalan itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang hijrah-nya karena Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya dinilai kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak didapatkannya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya dinilai sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR.Bukhari dan Muslim)[1].
An-Niyyaatu adalah bentuk jamak dari niyyatun, artinya tujuan. Dengan ungkapan yang lebih luas: Niat adalah tergeraknya hati menuju apa yang dianggapnya sesuai dengan tujuan baik berupa perolehan manfaat atau pencegahan mudarat.
Niat mengandung dua makna: 1. Bermakna pemisahan –-ibadah satu dengan lainnya misalnya, pemisahan antara sholat Dhuhur dan Ashar, atau pembedaan antara ibadah dan adat (‘Urf)—seperti juga pembedaan antara mandi janabat dengan mandi biasa. Niat dengan makna seperti ini banyak dijumpai dalam kitab-kitab fiqh para fuqoha. Perbedaan yang sering muncul dalam masalah niat (dalam pengertian ini) adalah masalah haruskah niat itu dilafalkan atau kah cukup dalam hati.
Para ulama telah banyak menjelaskan mengenai masalah ini, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin,beliau berkata:”Dalam semua amalan, niat tempatnya dihati, bukan dilidah. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengucapkan niat dengan lisan ketika hendak sholat, puasa, haji, wudhu, atau amalan yang lain, maka dia telah melakukan kebid’ahan,mengamalkan sesuatu yang tidak ada asalnya dalam agama Alloh. Hal itu karena Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam ketika berwudhu, shalat, bersedekah, berpuasa, dan berhaji tidak pernah mengucapkan niat dengan lisan, karena niat memang tempatnya di hati.”[2] Memang niat merupakan amalan hati[3] yang tidak perlu untuk diucapkan, apabila kita ber-wudhu atau akan sholat maka inilah niat (amalan hati, terwujud dalam per-buatan), tidak mungkin bagi orang yang berakal dan tidak dipaksa melakukan sesuatu (entah itu amal yang baik maupun buruk) kecuali sudah dia niatkan. Oleh karena itu sebagian ahli ilmu mengatakan:” Kalaulah Alloh membebankan kamu suatu pekerjaan tanpa niat, pastilah pembebanan itu sesuatu yang tidak dapat dikuasainya”. 2. Niat bermakna pembedaan maksud seseorang dalam beramal. Apakah semata-mata karena Alloh, atau karena yang lainnya, atau karena bersamaan dengan lainnya. Maksudnya ada manusia yang beramal ikhlas karena Alloh, ada yang ingin dilihat dan dipuji orang lain, ada juga yang beramal supaya dipuji orang sekaligus memperoleh ridho dari Alloh. Bagi orang yang beramal hanya karena mengharapkan ridho Alloh semata dengan diiringi rasa raja’ (berharap) dan khauf (takut –akan siksaannya,pen) itulah orang-orang yang ikhlas [4].
Keikhlasan inilah point penting dalam setiap amalaliah perbuatan kita sekecil apapun itu. Ikhlas merupakan hakikat agama Islam, inti peribadatan seorang hamba, syarat diterimanya amal dan merupakan dakwahnya para Rosulullah. Tanpa keikhlas-an amal kita tidak ada artinya apa-apa. Dan untuk itulah, Alloh memerintahkan kita untuk menjalankan agama yang lurus dan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya semata. Sebagaimana dalam firman-Nya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS.Al-Bayyinah : 5) Ayat ini mengisyaratkan kita dalam beramal hendaknya memperhatikan keikh-lasan niat kita dan sesuai dengan petunjuk agama-Nya yang lurus (sesuai dengan syari’at).
Bagi orang-orang yang beramal kepada selain Alloh ada beberapa macam: o Amalan riya’ semata-mata. Yaitu tidak dilakukan melainkan hanya supaya dilihat oleh makhluq karena tujuan duniawi. Maka amalan ini jelas tidak akan memberikan arti apa-apa dihadapan Alloh. Bahkan riya’ merupakan syirik ashghar (syirik kecil). Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: ”Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil, para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan syirik kecil? Rasulullah menjawab,dia adalah riya”.[5]
o Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai riya’ dari asalnya, maka amalan seperti ini salah (bathil) dan terhapus (tidak mendapatkan pahala apapun disisi Alloh, bahkan berdosa). Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ber- sabda: “Alloh Tabaraka Wata’aala berfirman:”Aku paling tidak butuh kesyirikan. Maka barangsiapa yang melakukan amalan yang mempersekutukan antara Aku dan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”[6]
o Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai niat lain selain riya’. Contohnya : jihad fisabilillah hanya karena Alloh dan karena menghendaki harta rampasan perang, maka amalan seperti ini berkurang pahalanya, dan tidak sampai batal dan terhapus. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “Tidak ada seorangpun yang berjihad di jalan Alloh kemudian mendapatkan ghanimah melainkan telah menyegerakan dua pertiga pahala mereka diakhirat dan tinggal bagi mereka sepertiganya, dan jika tidak mendapatkan ghanimah maka mereka mendapatkan pahala yang sempurna.”[7]
o Amalan yang asalnya ditujukan bagi Alloh kemudian terbesit riya’ ditengah-tengahnya, maka amalan ini terbagi menjadi dua: o Jika riya’ tersebut terbesit sebentar dan segera dihalau maka riya’ tersebut tidak berpengaruh apa-apa. o Jika riya’ tersebut selalu menyertai amalannya maka yang rojih dari pendapat ulama adalah amalannya tidak batal dan dinilai niat awalnya sebagaimana dinukil pendapat ini dari Imam Hasan Al-Bashri.
Adapun jika seseorang beramal ikhlas karena Alloh kemudian mendapat pujian sehingga dia merasa senang dengan pujian tersebut, maka hal ini tidak berpengaruh apa-apa terhadap amalannya sebagaimana dalam hadits Abu Dzar Radhiyallohu‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam ditanya seseorang yang beramal karena Alloh kemudian dipuji oleh manusia, maka beliau menjawab:”Itu adalah khabar gembira yang disegerakan bagi seorang mu’min.”[8]
Imam Hasan Al-Banna berkata, “Ikhlas adalah seorang akh Muslim yang bermaksud dengan kata-katanya, amalnya dan jihadnya, seluruhnya hanya kepada Alloh, untuk mencari ridho Alloh dan balasan yang baik dari Alloh dengan tanpa melihat kepada keuntungan, bentuk, kedudukan, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian ia menjadi tentara aqidah dan fikrah dan bukan tentara keinginan atau manfaat.”[9]
Cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas: 1. Mengetahui arti keikhlasan dan urgensinya dalam beramal 2. Menambah pengetahuan tentang Allah swt dan hari kiamat. Dengan mengetahui ilmu tentang-Nya, maka seseoang mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya tentulah tidak akan berani berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya di dalam niatnya). Ia juga akan mempertimbangkan amal-amalnya dan balasannya nanti di akhirat. 3.Memperbanyak membaca/berinteraksi dengan al-Qur’an, karena al-Quran adalah penyembuh dari segala penyakit dalam dada (QS.10:57) termasuk penyakit riya, ujub, dan sum’ah. 4. Memperbanyak amal-amal rahasia, sehingga kita terbiasa untuk beramal karena Allah semata tanpa diketahui orang lain. 5. Menghindari / mengurangi saling memuji, karena dengan pujian terkadang orang jadi lalai hatinya dan menjadi sombong. 6.Berdoa, dengan tujuan agar selalu diberi keikhlasan dan dijauhi dari syirik. Doa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw : “Allahumma innii a’udzubika annusyrikabika syaian a’lamuhu wa astaghfiruka lima laa a’lamuhu.” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari syirik kepada-Mu dalam perbuatan yang aku lakukan dan aku memohon ampun ke-pada-Mu terhadap apa yang tidak aku ketahui.)[10]
Akhi fillah, setelah kita memahami esensi dari sebuah kelurusan niat dalam setiap amal kita, mari kita bersama senantiasa menjaga kelurusan niat-niat kita. Amal sekecil apapun itu dan siapapun kita, maka Alloh melihat hati kita dan amal perbuatan kita bukan yang lain. Tanda-tanda keikhlasan bagi seorang da’I nampak dari dirinya yang tidak menginginkan sesuatu dari dakwah ini kecuali karena Alloh semata. Ia tidak ingin mendapatkan status sosial yang tinggi. Ia tidak banyak memikirkan apakah posisinya tinggi atau tidak dikenal di antara manusia. Dia tidak merasa peduli dengan manusia dan sanjungan dari mereka. Ia tidak berusaha untuk mendapatkan rasa takjub dari mereka. Ia tidak mengharap pujian dan penghormatan dari mereka. Hal ini tidak berarti bahwa dia berharap untuk mendapat celaan dari manusia atau prasangka buruk dari mereka.
Tidak begitu. Tetapi seyogyanya ia menapaki jalan dakwah pada jalan yang lurus dan tidak mengharapkan kecuali pahala dari Alloh semata. Dia tidak berusaha untuk mendapatkan keuntungan berupa harta yang banyak dari dakwah ini. Sebab alangkah jeleknya orang yang mengira bahwa dirinya hanya menghendaki Alloh dan keridhaan-Nya, padahal sebenarnya mereka hanya mengharapkan kepada dinar dan dirham. Keikhlasan seorang da’I menjelma dalam sikapnya yang merasa gembira apabila tercapai keberhasilan dari tangan orang lain sebagaimana dia merasa gembira kalau keberhasilan itu dicapai dengan tangannya sendiri. Dia tetap akan melakukan amalnya walaupun harus ditinggalkan sendirian oleh saudaranya, karena di yakin Alloh bersamanya. Jika ini terjadi dalam diri kita, maka karakter kader dakwah yang muntij (produktif), insya Alloh akan muncul dalam diri kita. Teruslah beramal dengan ilmu dan kelu-rusan niat.
Wallahu musta’an. |
|
|