Ego dan Hobby
|
Friday, 03 July 2009 03:13 |
|
Ketika saya memutuskan untuk menekuni dunia freelance web design and web development, haruslah sudah menjadi suatu kewajiban untuk mengambil resiko atas apa yang sudah saya putuskan. Apa yang membuat saya begitu semangat menekuni bidang ini? adalah ego dan hobby (selain tentunya rupiah). Keduanya tak bisa dilepaskan untuk menjadi alasan saya selama ini. Ego untuk menciptakan atau merubah suatu hal ke yang baru adalah sebuah prestise tersendiri bagi saya. Menancapkan karya yang dapat dilihat oleh banyak user di ranah maya merupakan sebuah kepuasan tersendiri bagi saya. Hobby. Keseringan menatap layar monitor dan 'terbang'di dunia maya mampu melahirkan hobby saya. Mengutak-atik code yang mungkin bagi sebagian orang adalah begitu membosankan tetapi justru sebaliknya bagi saya. Tantangan dan keingintahuan membuat saya selalu betah berlama-lama berteman dengan makhluk syntac2 itu. Apakah selalu merasa demikian. Tentu saja tidak! Sebagai manusia biasa, saya juga mengalami yang namanya masa2 jenuh. Terkadang begitu merasa stress jika harus menyelesaikan deadline yang tak kunjung finish. Terkadang juga sebuah virus kejenuhan menggerogoti aktivitas saya dalam hentakan2 papan tuts ini. Membuat seakan ingin segara berlari dari semuanya. Tapi sekali lagi, inilah resiko yang harus saya ambil. Toh, aktivitas atau profesi apapun tentu akan selalu menciptakan sisi2 lain yang mungkin juga sama: jenuh. Banyak sekali manfaat untuk prefer di bidang ini. Salah satunya adalah bagaimana cara saya bisa mengenal dan mengenali latar client yang berbeda. Profesi mereka yang mungkin aneh bagi saya, pemikiran mereka yang kadang mungkin terlalu rumit untuk ditulis dengan sentuhan jari2 di papan keyboard. Dan masih banyak hal lain. Dan itulah sebuah kebanggan tersendiri bagi saya. Bagaimana juga berlatih untuk berada dalam posisi tertekan banyak deadline, tertumbuk dengan tembok waktu, terbiasa dengan cemoohan yang pedas. Belajar juga untuk selalu se-efektifitas dalam penggunaan waktu, setia pada janji. Dan masih banyak lagi... Dan, jadilah saya sekarang. Meksi masih dalam tahap awal in. Saya harus lebih siap. Disana masih banyak hal yang akan menghampiri dan mempengaruhi aktivitas saya. Yang mungkin akan menunda hari libur saya, hehehe... Selamat berjuang, rekan2. Jangan pernah menyerah dan hadapi semua dengan senyuman dan tanpa beban. |
Sia-sia?
|
Wednesday, 27 May 2009 02:06 |
Kemarin (tepatnya beberapa waktu yang lalu), saya bersama rekan lain sempat mengelola sebuah website komunitas Alumni-Smansa (SMAN 1 Kesamben). Yups, sebuah prestice sendiri karena meng-onlinekan komunitas yang begitu besar sebagai jembatan penghubung dalam menjalin persaudaraan antar alumnus.
Awalnya memang sudah ada niat dari dulu untuk segera meng-onlinekan, sampai akhirnya mendapatkan sebuah domain gratis. Yups, tentu saja dengan domain tersebut, saya registerkan dengan domain alumni-smansa.com. Saya kira domain tersebut adalah unik dan bagus dalam arti mampu mewakili nama alumni dan smansa sebagai singkatan dari SMA satu. Bahkan dalam beberapa bulan saja, mampu nangkring dalam top Google search untuk keyword: alumni smansa. Untuk server hostingnya, secara kebetulan masih ada sisa space yang nganggur dalam hosting tempat saya naruh file2 di blog ini. Lambat laun, website alumni ini semakin besar dan luas. Tercatat lebih dari100 member alumnus sudah bergabung dalam website tersebut. Meski belum mampu secara aktif untuk mengikuti forum ataupun membantu team dalam update berita dan lain-lain tetapi sudah menunjukkan betapa website adalah benar2 mampu menjembatani antar alumnus dalam menggandeng dalam sebuah satu kesatuan yang lebih resmi. Untuk tahun kedua, domain harus expired. Karena belum ada dana untuk memperpanjang atas dasar inisiatif saya sendiri, saya mengeluarkan kocek dari saku saya sendiri untuk kembali membuat website ini bertahan. Toh, ini sebagai langkah awal dalam mengamankan register domain tersebut. Karena harus transfer domain, mengingat lokasi register sebelumnya ada di luar negeri dan saya sendiri belum memgang credit card atau alat pembayaran internasional online (semacam Paypal atau E-gold). Kebetulan juga pada bulan2 itu, ada pihak yang mau memberikan space hosting gratis(tentu dengan persyaratan harus memasang banner sebagai media promosi bagi mereka). Dan, alumni-smansa.com-pun online kembali. Sedikit mengenai sisi design dan development, saya bersama rekan saya Heru, bekerja keras untuk membuat web ini bisa interaktif dan menarik. Jadi jangan dikira saya bisa menyulap web tersebut menjadi langsung online tanpa butuh kerja keras, waktu, dan biaya koneksi tentunya yang tidak sedikit. Bukan bermaksud menyobongkan diri atau apapun, itu begitu jauh dari pikiran saya. Tapi ini benar2 merupakan hal yang saya lakukan bukan secara instan atau kebetulan loh... Jatuhlah pada akhir dari semua ini, dimana domain harus expired lagi karena akan memasuki tahun ketiga. Saya akhirnya merasa keberatan bila harus merogoh kocek lagi. Mengapa? karena komunitas yang sedemikian besar saya kira akan mampu menutup harga domain ini. Toh, berapa sih harga domain untuk 1 tahun? tidak sampai 100ribu sodara2. Saya pun membuka pintu donasi, yang merupakan hal yang lumrah dalam sebuah website komunitas pada umumnya (selain tersedianya sponsor tentunya). Ternyata, sampai domain di-delete dari akun saya register, tidak ada satupun donasi yang masuk, melihat urgent yang demikian, saya memberanikan diri untuk mengirimkan mass mail via Facebook Alumni-Smansa. Nyatanya sampai benar2 domain tidak bisa selamat, tidak ada juga donasi yang masuk. Jangankan donasi, tidak satupun tanggapan atau reply dari pesan saya via Facebook tersebut. Dan pihak hosting juga akhirnya harus men-suspend akun dan space untuk domain alumni-smansa, berikut data2 lain yang saya titipkan mereka. Sayapun kelimpungan karena beberapa file web client saya kebetulan juga ada di server tersebut. Inikah yang dinamakan komunitas? komunitas adalah sebuah kelompok yang berdiri dari beberapa orang yang satu tujuan atau misi. tetapi dalam kasus ini, komunitas belum bisa dikatakan demikian. Akhirnya, saya harus mengucapkan selamat tinggal website alumni-smansa.com. Maafkan saya jika saya tidak mampu memberikan hal yang berguna bagi komunitas ini. Dengan tertutupnya website ini, saya hanya bisa bertanya-tanya dalam hati: "Sia-siakah pengorbanan saya selama ini?" semoga saja tidak. |
Facebook Teman Se-hari² Saya
|
Monday, 30 March 2009 11:51 |
|
Demam Facebook (FB) boleh dikatakan booming paling besar abad ini (*haiah*). Kelahirannya di dunia maya mampu "meng-hipnotis" kaum di seluruh dunia untuk pindah hati ke situs jejaring sosial ini. Tua, muda, laki, perempuan, semua tumplek-blek berkumpul di dalamnya. Bagi saya pribadi, saya merasakan sebagai "korban" atas kehadirannya di alam maya. Dari yang semula getol banget ama situs jejaring sosial yang telah populer sebelumnya Friendster (FS), akhirnya FB benar² menyedot perhatian saya. Bukan hanya itu, FB telah menjadi teman se-hari² saya akhir² ini. Rutinitas keseharian saya rasanya kurang lengkap tanpa mengikuti perkembangan di dinding FB saya. Sebelum bangun, sesudah bangun tidur, di kala ngopi, ngelamun dan kegiatan luang lainnya tak lupa selalu mengakses-nya untuk sekedar kongkow² dengan rekan² anggota FB. Kehadiran FB di media mobile mempermudah bagi saya untuk selalu update. Meski menggunakan HP jadul saya ini... Keajaibannya juga telah mampu menemukan teman² lama saya yang sudah lama tak bertatap muka. Nggak nyangka juga bisa menemukan teman SD yang ada di seberang belahan dunia sana, wah... dunia begitu kecilnya Akhirnya, selamat datang teman baru saya. Mudah² mampu mewarnai hidup yang kadang terasa begitu monoton ini (*haiah*)... |
(Cara Saya) Buang Kejenuhan
|
Monday, 23 March 2009 08:54 |
|
Tak dipungkiri memang, setiap aktivitas kita sehari-hari kadang terasa begitu monoton. Hal2 yang sama dan selalu kita lakukan terkadang membuat kita merasa bosan dan jenuh. Itu adalah hal yang lumrah dan biasa. Bangun pagi, berangkat ngantor, pulang sore, istirahat di rumah menunggu esok pagi kembali. Manjalani hal2 yang seperti setiap hari selalu terasa begitu ambigu. Bagaimanapun bukan hal yang baik jika kita harus secara terbuka melawan rutinitas itu. Melawan arusnya adalah sebuah resiko yang musti harus kita tanggung sendiri. Cara yang paling baik dalam menghadapi hal itu adalah bagaimana membuang rasa jenuh dan bosan itu ketika acapkali terasa. Semua memang tergantung kita sendiri yang menjalankan. Dan berikut cara saya dalam membuang kejenuhan: 1. Dengerin musik. Saya orangnya suka banget musik. Setiap kali rutinitas selalu saya sempatkan untuk mendengarkan musik. Bagi saya, alunan nada sebuah musik membantu dalam membentuk dan menciptakan ide, menghilangkan kepenatan dan juga mungkin meninggalkan jauh2 rasa malas  2. Ngopi di warung kopi. Ini selalu saya lakukan untuk mengusir kepenatan yang sudah memuncak. Menikmati secangkir kopi (Mochacino is my favourite) akan membantu dalam me-refresh syaraf2 yang tegang. Mengapa saya tidak memilih membuat kopi sendiri? pergi ke warung kopi bagi saya mampu menciptkan suasana yang berbeda. Tentu bukan hanya secangkir kopi hangat yang saya butuhkan, tetapi juga bertemu dengan orang2 lain yang terkadang memberikan saya inspirasi. Biasanya sambil ngopi saya sempatkan untuk baca koran dan nge-Plurk...  3. Main game. Saya juga maniak game. Apalagi tipe2 game Nah, lalu bagaimana cara Anda membuang kejenuhan?  |
I'll Quit...!!!
|
Wednesday, 04 March 2009 17:09 |
|
Pernah ada seorang teman yang ngomong sama saya: "Kamu kenapa koq kelihatan kacau banget ?" Secara spontan saya pun jawab: "Oya...?" sembari berlalu menjauh dari teman saya itu (*kabor mode on*).  Bukannya saya anti kritik atau tidak mau mengomentari sohib saya tersebut, tapi emang itulah saya adanya. It's me... Memang tidak salah kalau dia menyebut kacau atau apapun. Demikian sayapun juga merasa demikian. Jadi kalau anda melihat orang yang rambut acak2an, pakaian gak ada rapi2nya, dan kelihatan seperti habis pulang dari medan perang, mungkin anda sedang melihat saya, hahaha...  Dan hari ini saya bertanya pada diri saya sendiri: "ada apa dengan dirimu? apakah tidak bisa seperti orang2 di sekelilingmu? Lihatlah mereka yang rapi dan disiplin mengurus diri mereka!" Entahlah, hari2 saya begitu kacau. Banyak waktu yang terbuang dengan kegiatan yang tidak jelas. Jarang merawat diri, nggak pernah memperhatikan penampilan, tidur yang nggak teratur, pola makan yang 'seingatnya'. Tapi saya ingin merubah pola hidup saya. Banyak sekali hal yang saya ingin perbaiki. Mulai keinginan untuk lebih memperhatikan penampilan, menjaga kesehatan dengan olahraga, dan juga satu yang paling penting: pingin terbebas dari rokok!  Untuk satu yang terakhir ini saya nilai sendiri sudah teramat parah. Sehari rata2 saya bisa menghabiskan 2 bungkus rokok (isinya maksudnya). Wow... sebuah kebiasaan yang sudah sangat kebangetan. Bagaimana mungkin detik, menit, jam dan hari2 yang saya lalui begitu penuh dengan kepulan asap, huehuehue...  Pada tulisan di blog tercinta ini (*haiah...*), aku akan bertekad untuk berhenti mengepul eh merokok. Kalau ada yang melihat saya pegang batang atau bungkus rokok, tolong jangan sungkan2 untuk memukul kepala bahu saya. I'll Quit...!!!  |
|
|